Fenomena Aura Farming di Indonesia, Antara Gaya Hidup Digital dan Dampak Psikologis

Aura Farming

Fenomena Aura Farming di Indonesia, Antara Gaya Hidup Digital dan Dampak Psikologis

Fenomena aura farming yang viral di media sosial Indonesia sejak pertengahan 2025 telah berkembang menjadi lebih dari sekadar tren lucu-lucuan. Konsep ini, yang awalnya berangkat dari video santai Rayyan Arkan Dikha, kini telah menjadi bagian dari gaya hidup digital sebagian generasi muda.

Tidak hanya diikuti oleh para remaja, tren ini juga diadopsi oleh influencer, pelaku bisnis, hingga pekerja profesional yang ingin membangun citra personal di dunia maya. Aura farming, dalam konteks ini, merujuk pada usaha konsisten membangun “pancaran” positif melalui penampilan, sikap, dan interaksi di platform digital.

Namun, di balik popularitasnya, fenomena ini memunculkan sejumlah pertanyaan: Apakah tren ini sekadar hiburan atau justru mulai memengaruhi kesehatan mental dan pola pikir generasi muda? Bagaimana peran media sosial dalam memperkuat budaya “menjual aura” ini?


Asal Usul dan Perkembangan Tren Aura Farming

Istilah aura farming mulai populer setelah muncul di komentar netizen pada video viral Rayyan Arkan Dikha. Dalam video tersebut, Rayyan tampil santai dengan gestur percaya diri yang membuat warganet berkomentar bahwa ia “sedang memanen aura.” Sejak itu, istilah ini berkembang pesat di media sosial, terutama TikTok dan Instagram.

Awalnya, tren ini hanya berupa tantangan sederhana: menampilkan diri dengan gaya tertentu untuk menunjukkan “aura” terbaik. Namun, seiring banyaknya kreator yang ikut mempopulerkan, aura farming mulai memiliki variasi konsep. Ada yang mengemasnya dalam bentuk komedi, ada pula yang menjadikannya strategi personal branding.

Dalam beberapa bulan saja, hashtag #AuraFarming digunakan ratusan ribu kali. Fenomena ini bahkan merambah ke dunia offline, di mana acara komunitas, sekolah, hingga event kampus mengadakan lomba foto dan video bertema aura farming.


Faktor yang Membuat Aura Farming Meledak

Salah satu faktor utama adalah kesederhanaan tren ini. Siapa pun bisa membuat konten aura farming tanpa modal besar. Cukup percaya diri di depan kamera, memanfaatkan pencahayaan yang baik, dan memilih sudut yang tepat. Hal ini membuatnya inklusif dan mudah diikuti.

Faktor kedua adalah daya tarik visual. Konten yang menonjolkan ekspresi dan gaya berpakaian cenderung lebih cepat menarik perhatian pengguna media sosial. Kombinasi ini membuat aura farming mudah masuk ke algoritma platform dan menjadi viral.

Faktor ketiga adalah sifatnya yang fleksibel. Tren ini bisa digunakan untuk tujuan hiburan, promosi produk, hingga membangun citra personal. Inilah mengapa banyak brand lokal ikut memanfaatkan tren ini untuk kampanye pemasaran.


Pengaruh Aura Farming terhadap Gaya Hidup Digital

Bagi sebagian orang, aura farming hanyalah hiburan sesaat. Namun, bagi sebagian lainnya, tren ini menjadi bagian dari gaya hidup digital yang serius. Mereka merencanakan konten dengan matang, memilih pakaian khusus, dan bahkan menyewa fotografer untuk menghasilkan gambar atau video dengan “aura” maksimal.

Perubahan ini membuat gaya hidup digital semakin terstruktur. Orang mulai memikirkan bagaimana mereka tampil di media sosial, bukan hanya dalam momen tertentu tetapi juga secara konsisten. Akibatnya, media sosial menjadi ruang kurasi citra diri yang sangat terkontrol.

Di sisi lain, fenomena ini juga menumbuhkan industri baru seperti jasa konsultasi personal branding, pelatihan public speaking, dan bahkan kelas fotografi khusus untuk membangun “aura” yang kuat di dunia maya.


Dampak Psikologis bagi Generasi Muda

Aura farming dapat memiliki dampak positif maupun negatif bagi generasi muda. Dampak positifnya adalah meningkatkan rasa percaya diri. Banyak orang yang sebelumnya minder kini berani tampil karena termotivasi untuk menunjukkan sisi terbaiknya.

Namun, di sisi negatif, tren ini juga bisa memicu tekanan sosial. Tidak semua orang mampu mempertahankan citra yang selalu “aura” setiap saat. Hal ini berisiko menimbulkan rasa cemas, perbandingan sosial yang berlebihan, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri.

Psikolog menyarankan agar tren ini dinikmati secara sehat. Menganggapnya sebagai permainan atau hiburan dapat mengurangi risiko tekanan mental. Penting juga untuk mengingat bahwa nilai diri seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh penampilan di media sosial.


Keterlibatan Brand dan Industri Kreatif

Melihat popularitas aura farming, banyak brand lokal mulai memanfaatkannya dalam strategi pemasaran. Misalnya, brand fashion mempromosikan pakaian “penguat aura,” sementara brand kosmetik menawarkan produk dengan tagline yang mengklaim bisa “meningkatkan aura alami.”

Industri kreatif pun mendapatkan peluang. Fotografer, videografer, dan content creator menawarkan jasa khusus untuk membuat konten aura farming profesional. Bahkan, beberapa event komunitas mengadakan kompetisi aura farming dengan hadiah produk sponsor.

Fenomena ini membuktikan bahwa tren media sosial tidak hanya memengaruhi gaya hidup, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang berkembang cepat.


Fenomena Serupa di Dunia Internasional

Walaupun istilah aura farming khas Indonesia, fenomena serupa ada di luar negeri. Di Korea Selatan, konsep “self-aura” populer di kalangan idol dan influencer. Di Amerika dan Eropa, istilah “main character energy” memiliki makna yang hampir sama: membangun citra diri layaknya tokoh utama dalam cerita hidup.

Kesamaan ini menunjukkan bahwa dorongan untuk menampilkan citra terbaik di media sosial adalah fenomena global. Perbedaannya, aura farming di Indonesia cenderung dibumbui humor dan kreativitas khas warganet lokal.

Fenomena ini menjadi contoh adaptasi budaya global yang diolah menjadi tren lokal dengan identitas unik.


Bagaimana Menikmati Tren Ini Secara Sehat

Psikolog menyarankan agar setiap orang yang mengikuti tren ini tetap memiliki batasan. Jangan sampai kebutuhan membangun aura di media sosial membuat seseorang kehilangan kenyamanan atau keaslian dirinya.

Beberapa tips untuk menikmati aura farming secara sehat:

  1. Tetap jadi diri sendiri – jangan memaksakan gaya yang tidak nyaman.

  2. Batasi waktu online – hindari tekanan berlebihan dari komentar atau perbandingan sosial.

  3. Gunakan untuk hal positif – misalnya promosi karya, mengedukasi, atau menginspirasi orang lain.

Dengan cara ini, tren aura farming dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan tanpa menimbulkan dampak negatif.


Kesimpulan

Fenomena aura farming di Indonesia adalah bukti kreativitas warganet dalam mengadaptasi tren global menjadi sesuatu yang unik dan lokal. Meskipun membawa potensi dampak negatif, tren ini juga bisa menjadi sarana membangun rasa percaya diri dan peluang ekonomi jika dimanfaatkan dengan bijak.

Kuncinya ada pada keseimbangan. Mengikuti tren boleh saja, selama tidak kehilangan identitas dan kesehatan mental tetap terjaga. Pada akhirnya, “aura” terbaik adalah yang terpancar dari keaslian diri.


Referensi