Letusan Gunung Lewotobi: Kronologi Awal
Pada pertengahan Agustus 2025, Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores, Nusa Tenggara Timur, kembali erupsi setelah periode peningkatan aktivitas sejak Juli. Erupsi kali ini cukup besar dengan kolom abu mencapai lebih dari 3.000 meter di atas puncak. Semburan material vulkanik terlihat jelas dari desa-desa sekitar, memaksa ribuan warga dievakuasi ke lokasi aman.
Badan Geologi Indonesia mencatat peningkatan signifikan aktivitas seismik sejak awal bulan. Rentetan gempa vulkanik dangkal mendahului letusan, diikuti dengan suara dentuman keras. Warga di Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura melaporkan hujan abu tebal yang menutup jalan, atap rumah, dan lahan pertanian.
Erupsi Lewotobi kali ini menjadi yang terbesar dalam lima tahun terakhir. Pemerintah daerah langsung menetapkan status tanggap darurat dan menyiapkan posko pengungsian di beberapa titik, termasuk di Larantuka.
Sejarah Letusan Gunung Lewotobi
Gunung Lewotobi terdiri dari dua puncak: Lewotobi Laki-laki dan Lewotobi Perempuan. Keduanya termasuk gunung api aktif yang tercatat sering meletus sejak abad ke-17. Letusan besar terakhir terjadi pada tahun 2012, yang menyebabkan ribuan warga harus mengungsi.
Nama “Lewotobi” berasal dari bahasa lokal yang berarti “gunung kembar”. Gunung ini juga memiliki makna mitologis bagi masyarakat Flores Timur. Dalam tradisi lokal, Lewotobi dianggap sebagai pasangan simbolik yang melambangkan keseimbangan antara maskulinitas dan femininitas.
Sejarah panjang letusan Lewotobi membuat gunung ini masuk dalam daftar gunung api dengan pengawasan ketat di Indonesia. Namun, intensitas letusan sering kali sulit diprediksi karena sifat vulkaniknya yang kompleks.
Dampak Langsung ke Masyarakat
Letusan Agustus 2025 membawa dampak besar bagi kehidupan warga sekitar:
-
Pengungsian massal – Lebih dari 8.000 warga dari desa-desa di radius 5–7 km dievakuasi ke tempat aman. Posko pengungsian dipenuhi anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang membutuhkan bantuan khusus.
-
Pertanian rusak – Hujan abu menutupi sawah dan ladang jagung, membuat tanaman terancam gagal panen. Bagi masyarakat Flores, ini pukulan berat karena sebagian besar hidup dari sektor pertanian.
-
Kesehatan terganggu – Banyak warga menderita ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) akibat debu vulkanik. Masker dan obat-obatan menjadi kebutuhan darurat.
-
Transportasi terganggu – Bandara Gewayantana di Larantuka sempat ditutup karena jarak pandang terbatas. Jalur darat juga terhambat oleh abu dan material vulkanik.
Dampak ini memperlihatkan betapa rentannya masyarakat lokal terhadap bencana alam, terutama di wilayah kepulauan dengan akses terbatas.
Respons Pemerintah dan BNPB
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah bergerak cepat. Tim gabungan TNI, Polri, Basarnas, dan relawan dikerahkan untuk membantu evakuasi. BNPB juga mengirimkan logistik darurat berupa makanan, tenda, obat-obatan, dan masker.
Pemerintah pusat menetapkan status darurat bencana untuk Kabupaten Flores Timur selama 14 hari. Menteri Sosial dan Kepala BNPB langsung turun ke lokasi untuk memastikan penanganan berjalan baik. Presiden Prabowo Subianto bahkan memberikan instruksi khusus agar evakuasi diprioritaskan bagi kelompok rentan.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang. Pos pemantauan gunung api ditingkatkan, dan jalur evakuasi diperluas.
Mitologi dan Kearifan Lokal Masyarakat Flores
Bagi masyarakat lokal, letusan Lewotobi bukan hanya peristiwa geologis, tapi juga peristiwa spiritual. Dalam mitologi Flores Timur, letusan Lewotobi sering dikaitkan dengan keseimbangan kosmos.
Banyak warga percaya bahwa gunung meletus ketika keseimbangan alam terganggu oleh ulah manusia. Ritual adat biasanya dilakukan untuk “menenangkan” gunung, dengan sesajen dan doa bersama.
Meski keyakinan ini bersifat kultural, ia juga punya fungsi sosial penting: memperkuat solidaritas warga dalam menghadapi bencana. Kearifan lokal semacam ini sering dilihat oleh antropolog sebagai bentuk “mitigasi budaya” yang melengkapi sains modern.
Perspektif Ilmiah: Aktivitas Vulkanik di Nusa Tenggara Timur
Secara ilmiah, letusan Lewotobi berkaitan dengan aktivitas tektonik di Lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Daerah Flores termasuk dalam zona subduksi aktif, yang menyebabkan banyak gunung api di wilayah ini.
Penelitian menunjukkan bahwa magma Lewotobi cenderung bersifat andesitik hingga basaltik, yang berarti letusannya bisa eksplosif. Hal ini menjelaskan mengapa letusan sering disertai kolom abu tinggi dan hujan material vulkanik.
Para ahli vulkanologi menekankan pentingnya sistem peringatan dini berbasis sensor seismik, deformasi tanah, dan gas vulkanik. Dengan kombinasi teknologi dan kearifan lokal, mitigasi bencana bisa lebih efektif.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Letusan Lewotobi juga berdampak pada sektor pariwisata. Flores yang selama ini dikenal sebagai destinasi wisata dunia (karena Komodo, Danau Kelimutu, dan budaya lokalnya) mengalami penurunan kunjungan. Banyak wisatawan membatalkan perjalanan karena khawatir dengan kondisi erupsi.
Dari sisi ekonomi lokal, kerugian besar dialami oleh petani dan nelayan. Abu vulkanik menutupi ladang, sementara aktivitas nelayan terhambat karena akses ke pelabuhan terganggu. Pemerintah diperkirakan harus menyalurkan bantuan kompensasi miliaran rupiah untuk memulihkan kehidupan ekonomi masyarakat.
Namun, dalam jangka panjang, para ahli menilai letusan gunung juga membawa manfaat. Tanah yang tertutup abu vulkanik justru akan menjadi lebih subur beberapa tahun mendatang, mendukung pertanian berkelanjutan.
Perbandingan dengan Letusan Gunung Lain
Kasus Lewotobi 2025 bisa dibandingkan dengan letusan gunung api lain di Indonesia:
-
Gunung Merapi (2010): erupsi besar menewaskan ratusan orang, namun sistem peringatan dini terbukti menyelamatkan ribuan nyawa.
-
Gunung Agung (2017): ribuan warga Bali dievakuasi, dampak besar ke pariwisata internasional.
-
Gunung Semeru (2021): letusan disertai awan panas guguran menyebabkan banyak korban.
Dari perbandingan ini, terlihat bahwa Indonesia selalu menghadapi risiko besar dari gunung api. Tapi setiap peristiwa juga menjadi pelajaran untuk memperkuat sistem mitigasi.
Suara Pengungsi: Kisah dari Lapangan
Di posko pengungsian, cerita haru muncul dari para pengungsi. Seorang ibu bernama Maria bercerita bagaimana ia harus berlari sambil menggendong anak balitanya ketika suara dentuman terdengar. “Kami hanya bisa lari, meninggalkan rumah dan sawah. Untungnya ada tetangga yang membantu,” katanya.
Seorang remaja bernama Andi mengaku kehilangan ternak kambingnya yang terjebak di kandang. “Ternak adalah harta kami. Tapi kami tidak sempat menyelamatkan apa-apa. Yang penting kami selamat dulu,” ujarnya.
Kisah-kisah ini memperlihatkan sisi manusiawi dari bencana. Bahwa di balik data statistik, ada ribuan cerita kehilangan dan perjuangan untuk bertahan hidup.
Kesimpulan: Antara Ancaman dan Harapan
Letusan Gunung Lewotobi Agustus 2025 adalah pengingat betapa Indonesia hidup di atas cincin api yang aktif. Ribuan nyawa terdampak, ekonomi terguncang, namun solidaritas masyarakat dan respons cepat pemerintah menjadi kunci harapan.
Bencana ini seharusnya menjadi momentum memperkuat mitigasi bencana berbasis teknologi sekaligus menghargai kearifan lokal. Dengan begitu, Indonesia bisa lebih siap menghadapi letusan gunung api di masa depan.